Beranda Berita Jorgenson Hampir Rebut Takhta Dauphiné dari Roglic, tapi Harus Puas di Posisi...

Jorgenson Hampir Rebut Takhta Dauphiné dari Roglic, tapi Harus Puas di Posisi Kedua

19
0

Matteo Jorgenson (Visma-Lease A Bike) kembali menorehkan prestasi gemilang di ajang Critérium du Dauphine. Ia nyaris menggulingkan sang pemuncak klasemen, Primož Roglič (Bora-Hansgrohe), pada etape terakhir.

Dengan serangan agresif di pendakian terakhir, Plateau des Glieres, Jorgenson menguntit Roglič dan memperkecil jarak di setiap kayuhan pedalnya. Sayangnya, selisih waktu tipis antara Roglič dan Jorgenson mustahil untuk dihapuskan.

Meski gagal merebut posisi puncak, Jorgenson tampil jauh lebih baik dari perkiraan. Ia sukses menggeser Roglič, yang sebelumnya tak tersentuh setelah memenangi dua etape Alpine.

Tahun ini menjadi tahun yang luar biasa bagi Jorgenson. Sebelumnya, ia telah menjuarai Paris-Nice dan Dwars door Vlaanderen, membuktikan dirinya sebagai pembalap serba bisa. Penampilan gemilangnya di Dauphiné ini membuat banyak pihak bertanya-tanya tentang potensi besar yang dimilikinya di Tour de France yang akan segera berlangsung.

"Tidak ada penyesalan," kata Jorgenson setelah etape terakhir Dauphiné. "Ini adalah balapan yang sangat sulit dan saya harus puas dengan performa saya minggu ini."

Meski sempat tertinggal di etape ITT pada hari Rabu, Jorgenson terus menunjukkan determinasinya di etape-etape berikutnya. Ia menjadi pembalap Amerika pertama yang naik podium sejak Tejay van Garderen yang meraih posisi kedua pada 2019.

Jorgenson mengaku sempat merasa berada di batas kemampuannya, tetapi ia terus memacu diri untuk memberikan yang terbaik.

"Saya menemukan kekuatan yang lain," katanya.

Rekan setimnya, Tiesj Benoot, memberikan motivasi besar kepada Jorgenson sejak pagi hari. "Dia mengatakan bahwa itu mungkin, dan saya berusaha melakukan yang terbaik," ujar Jorgenson.

Menurut Jorgenson, etape ini sangat berat sejak awal pendakian Col de la Forclaz de Montmin. Kelompok breakaway dan serangan dari pembalap papan atas membuat persaingan semakin ketat.

"Saya mengikuti beberapa serangan dan merasa bahwa Primož sedikit berada di batasnya. Tiesj merasakan hal yang sama dan memotivasi saya," kata Jorgenson.

Pada lima kilometer terakhir di Glieres, Laurens De Plus melakukan serangan yang membuat semua pembalap berada di batas kemampuannya. Ketika Carlos Rodríguez berhasil melewati De Plus, Roglič tidak mampu mengikutinya.

Hal itu menjadi sinyal bagi Jorgenson bahwa Roglič sedang kesulitan. "Saya juga berjuang keras, tetapi saya mengikutinya. Saya tidak melihat ke belakang, tetapi saya mendengar di radio bahwa dia tertinggal," ujar Jorgenson.

Namun, Jorgenson mengaku mungkin bisa saja memainkan strategi yang lebih agresif. Ia khawatir jika memprovokasi Derek Gee (Israel-Premier Tech) yang berada di posisi ketiga klasemen umum.

"Saya mencoba untuk tetap tenang, tetapi begitu Gee tertinggal, saya memberikan segalanya sampai garis finis," katanya. "Mungkin tidak berhasil hari ini, tetapi mungkin tahun depan."

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini