Beranda Berita Baroudeurs Sepuh, Alessandro De Marchi Buktikan Perjudian Berani Masih Berbuah Manis

Baroudeurs Sepuh, Alessandro De Marchi Buktikan Perjudian Berani Masih Berbuah Manis

16
0

Di era dominasi kemenangan solo dan tim peloton yang gencar memburu kemenangan etap, kemenangan dari kelompok breakaway menjadi seni yang nyaris punah di dunia balap sepeda. Namun, seorang veteran masih berkibar mengibarkan bendera para petarung berani ini, dia adalah Alessandro De Marchi (Jayco AlUla).

Pria Italia berusia 37 tahun ini telah mengukir namanya sebagai sosok yang berani bertaruh di jalanan, mencoba mengecoh peloton dan memilih langkah tepat untuk meraih kemenangan. Ia baru meraih tujuh kemenangan sejak menjadi pembalap profesional bersama Androni pada 2011, namun setiap kemenangannya selalu berkesan dan menjadi pengingat bahwa manuver oportunistis masih bisa dilakukan.

"Pembalap seperti saya langka dan kami suka mengambil risiko," kata De Marchi. "Jika ingin sukses, kamu harus berani mengambil risiko."

Baru-baru ini, De Marchi meraih kemenangan ketujuhnya di etape 2 Tour of the Alps, tiga tahun dan 160 hari balapan setelah kemenangan terakhirnya di Tre Valli Varesine pada 2021.

"Kita tidak bisa membandingkan dengan balap sepeda di masa lalu, karena konteksnya sekarang sudah berbeda," ujar De Marchi dalam konferensi pers pasca balapan.

"Bukan berarti sekarang lebih sulit dari tahun-tahun sebelumnya. Saya di sini, saya melakukan apa yang selalu saya lakukan selama karier saya, dan saya masih sukses. Mungkin ini tanda bahwa apa yang kita miliki sebelumnya masih menjadi kunci."

De Marchi menjadi bagian dari enam orang yang memisahkan diri di rute Salorno ke Stans. Namun, ia membuktikan diri sebagai yang terkuat pada tanjakan terakhir, Gnadenwald (4,5 km dengan kemiringan 7,3%), setelah mengejar Patrick Gamper (Bora-Hansgrohe) dan melindas Simon Pellaud (Tudor) untuk melaju sendiri pada 20 km terakhir.

Penantian panjang akan kemenangan ini datang setelah De Marchi dua kali nyaris meraih kemenangan di etape Giro d’Italia 2023, di mana ia juga ikut dalam breakaway dan berusaha keras membuat manuver yang tepat.

Ia finis ketiga di Viareggio pada etape 10, di belakang Magnus Cort (EF). Ia juga nyaris menang di Napoli, empat etape sebelumnya, namun disalip peloton saat sudah terlihat oleh mata. Kariernya dipenuhi dengan upaya keras, namun De Marchi tak mau menyerah dan hari itu membuktikan alasannya.

"Secara keseluruhan, itu adalah upaya yang membuahkan hasil. Tentu saja, kesuksesan ini tidak sepenuhnya membayar semua usaha yang saya lakukan, tapi wow sungguh hasil yang luar biasa," katanya.

De Marchi bahkan merasa hari itu adalah harinya, ia memberitahu rekan setim dan teman sekamarnya, Filippo Zana, bahwa ia akan berusaha keras karena ia "perlu melakukan upaya".

"Jika ini kemenangan terakhir saya, itu tidak apa-apa, tapi itu bukan berarti saya akan berhenti berusaha. Saya balapan untuk sensasi: itulah sebabnya, bahkan jika saya akhirnya tertangkap hari ini, saya akan tetap tidur nyenyak dan bahagia."

Pembalap Italia itu bahkan memberikan saran kepada generasi muda karena gayanya terus berkurang seiring generasi baru yang enggan mengambil risiko.

"Baiklah, hari ini anak-anak muda dilatih, mereka didampingi oleh ahli gizi dan sebagainya, tetapi itu hanya bisa membawa mereka sejauh ini," kata pembalap Italia itu.

"Yang membawa kamu ke level selanjutnya adalah daya tahan, hatimu, dan kemampuan untuk berani. Dan mungkin itulah yang terlewatkan oleh anak-anak muda saat ini. Saya tidak berbicara tentang pembalap Italia, tapi setiap pembalap muda kekurangan dan tidak cukup lapar.

"Mereka tidak mau berani, tidak mau mengambil risiko."

De Marchi akan kembali ke Giro d’Italia untuk kelima kalinya bulan depan dan mungkin kemenangan perdananya di Grand Tour kandang sendiri akan tiba tepat waktu untuk ulang tahunnya yang ke-38 pada 19 Mei.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini